Menaker Minta Lulusan BLK Miliki Akses ke Dunia Kerja Melalui Jejaring

Jakarta — Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menegaskan pentingnya jejaring (networking) bagi lulusan Balai Latihan Kerja (BLK) agar akses ke dunia kerja tidak berhenti pada sertifikat keterampilan. Menurutnya, kemampuan teknis harus berjalan seiring dengan koneksi industri, pendampingan penempatan, dan ekosistem yang menjembatani lulusan dengan kebutuhan pasar.

Pesan ini menggarisbawahi realitas lapangan: keterampilan membuka pintu, tetapi jejaring membantu pintu itu benar-benar terbuka.

Keterampilan Perlu Jembatan

Menaker menilai BLK telah melahirkan banyak talenta siap kerja. Namun tanpa jembatan ke industri—perusahaan, asosiasi profesi, UMKM, hingga inkubator—potensi itu kerap tertahan. Karena itu, ia mendorong penguatan kemitraan BLK dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), termasuk magang terstruktur, job matching, dan job fair tematik.

Pendekatan ini memastikan kurikulum dan kebutuhan pasar bertemu tepat waktu.

Jejaring sebagai Modal Kerja

Jejaring bukan sekadar relasi, melainkan alur informasi: lowongan, standar kompetensi, hingga budaya kerja. Melalui jejaring, lulusan memahami ekspektasi industri, menyiapkan diri lebih matang, dan meningkatkan peluang diserap pasar.

BLK didorong menjadi hub—tempat bertemunya lulusan, perusahaan, dan mentor—agar transisi dari pelatihan ke pekerjaan berlangsung mulus.

Human Interest: Dari Latihan ke Nafkah

Di balik kebijakan, ada cerita lulusan yang menguasai mesin, desain, atau pengelasan, namun bingung memulai. Dengan jejaring, mereka bertemu pemberi kerja, mendapat rekomendasi, bahkan peluang wirausaha. Satu kontak bisa mengubah arah hidup—dari pencari kerja menjadi pekerja, dari pekerja menjadi pelaku usaha.

Pendampingan pascapelatihan—coaching wawancara, penyusunan CV, hingga etika kerja—menjadi bagian penting agar lulusan percaya diri melangkah.

Keamanan Publik dan Kualitas Kerja

Penempatan kerja yang tepat juga berdampak pada keamanan dan kualitas kerja. Pekerja yang kompeten dan ditempatkan sesuai keahlian cenderung bekerja lebih aman, produktif, dan berkelanjutan. Ini mengurangi risiko kecelakaan kerja dan meningkatkan kesejahteraan.

Kolaborasi Berkelanjutan

Menaker mendorong kolaborasi lintas pihak: pemerintah daerah, BLK, industri, dan komunitas. Digitalisasi penempatan—platform lowongan terkurasi dan pelacakan penyerapan—dianggap penting untuk transparansi dan evaluasi.

Penutup

Seruan Menaker agar lulusan BLK memiliki akses ke dunia kerja melalui jejaring menegaskan satu hal: pelatihan yang baik harus berujung pada pekerjaan yang nyata. Dengan keterampilan yang relevan dan jejaring yang kuat, lulusan BLK tidak hanya siap kerja—mereka siap berdaya.