Jakarta (cvtogel) — Liburan sekolah kerap identik dengan pusat perbelanjaan yang padat dan gawai yang tak lepas dari genggaman. Namun di sejumlah daerah, suasana liburan berubah arah. Taman kota menjadi ruang bermain kreatif, gedung publik disulap jadi panggung seni, dan mal membuka area edukasi tematik. Kementerian Ekonomi Kreatif menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan sektor swasta yang membuka ruang bagi IP (Intellectual Property/kekayaan intelektual) lokal selama masa liburan.
Apresiasi ini lahir dari keyakinan sederhana: liburan bukan hanya waktu jeda, tetapi kesempatan belajar yang menyenangkan—terutama bagi anak dan keluarga—sekaligus panggung bagi karya anak bangsa.
IP Lokal Bertemu Keluarga
Di berbagai kota, karakter lokal, komik, animasi, permainan tradisional modern, hingga karya desain tampil berdampingan dengan tawa anak-anak. Bagi pelaku kreatif, ini bukan sekadar pameran. Ini adalah pertemuan langsung dengan audiens—menguji cerita, membangun kedekatan, dan menanamkan kebanggaan.
“Anak-anak bisa berkenalan dengan karakter buatan kreator lokal,” ujar seorang penggiat komunitas. “Mereka belajar bahwa karya dari daerah sendiri juga keren.”
Ruang Aman, Ruang Tumbuh
Menekraf menilai inisiatif membuka ruang IP saat liburan memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat. Anak-anak mendapatkan ruang aman untuk berekspresi, orang tua memiliki alternatif rekreasi edukatif, dan pelaku kreatif memperoleh panggung yang adil.
Di taman kota, lokakarya menggambar dan bercerita digelar. Di pusat perbelanjaan, instalasi interaktif memperkenalkan proses kreatif di balik sebuah IP. Di gedung publik, pertunjukan kecil memberi ruang bagi seniman muda tampil tanpa beban.
“Ekosistem kreatif tumbuh ketika ruang dibuka,” kata seorang fasilitator acara. “Bukan hanya untuk menjual, tapi untuk berbagi.”
Kolaborasi yang Menghidupkan Kota
Keterlibatan pemda memberi legitimasi dan akses ruang, sementara swasta menghadirkan dukungan logistik, promosi, dan keberlanjutan. Kolaborasi ini membuat kegiatan liburan terasa hidup—bukan acara satu kali, melainkan rangkaian pengalaman.
Menekraf menilai model kolaboratif ini efektif: kota menjadi ramah keluarga, pelaku kreatif mendapat eksposur, dan masyarakat menikmati hiburan bermakna.
“Ketika kota ramah kreativitas, dampaknya berlipat,” ujar seorang pejabat daerah. “Ekonomi bergerak, budaya hidup.”
Belajar Tanpa Menggurui
Salah satu keunggulan kegiatan berbasis IP adalah pendekatan belajar yang natural. Anak-anak belajar melalui bermain—tentang cerita, nilai, proses, dan kerja tim—tanpa merasa sedang diajari.
Orang tua pun merasakan manfaatnya. “Anak saya pulang bukan cuma senang,” kata Rina, seorang ibu. “Dia bercerita tentang karakter lokal yang dia temui dan ingin menggambar lagi di rumah.”
IP sebagai Aset Bangsa
Menekraf menekankan bahwa IP lokal adalah aset jangka panjang. Ia menyimpan nilai ekonomi, budaya, dan identitas. Dengan membuka ruang saat liburan—ketika keluarga berkumpul—IP mendapat momentum terbaik untuk dikenal dan dicintai.
Dari sini, lahir peluang lanjutan: lisensi, kolaborasi lintas sektor, hingga pengembangan produk turunan yang berkelanjutan.
Menjaga Keberlanjutan
Apresiasi Menekraf juga disertai ajakan menjaga kualitas dan keberlanjutan. Kurasi yang baik, inklusivitas, dan keselamatan pengunjung menjadi kunci agar ruang kreatif tetap ramah dan berdampak.
“Buka ruangnya, jaga mutunya,” ujar seorang kurator. “Supaya kepercayaan publik tumbuh.”
Liburan yang Meninggalkan Jejak
Ketika liburan usai, yang tersisa bukan hanya foto di ponsel. Ada ingatan tentang karakter lokal yang ditemui, keterampilan baru yang dicoba, dan kebanggaan kecil terhadap karya sendiri.
Di sanalah nilai terpentingnya: liburan yang meninggalkan jejak, bukan sekadar waktu yang berlalu. Dan melalui kolaborasi pemda dan swasta, ruang-ruang IP itu telah membuktikan satu hal—bahwa kreativitas Indonesia tumbuh paling baik ketika diberi tempat untuk hidup.
